Banyak orang mengira pertanyaan “apa itu sains?” adalah pertanyaan sederhana. Jawabannya seolah sudah jelas: fisika, kimia, dan biologi adalah sains; seni, agama, dan teologi bukan. Namun justru di titik inilah filsafat sains—sebagaimana ditunjukkan oleh Samir Okasha dalam bukunya Philosophy of Science—memulai pembahasannya.
Menurut Okasha, filsafat sains tidak tertarik pada daftar disiplin, melainkan pada pertanyaan yang jauh lebih mendasar:
apa yang membuat suatu aktivitas layak disebut sains?
Definisi Intuitif yang Ternyata Bermasalah
Definisi populer menyebut sains sebagai usaha untuk memahami, menjelaskan, dan memprediksi dunia. Okasha mengakui definisi ini masuk akal, tetapi tidak memadai. Alasannya sederhana: banyak aktivitas lain juga melakukan hal serupa.
Agama berusaha menjelaskan dunia, sejarah berusaha memahami masa lalu, bahkan astrologi mengklaim dapat memprediksi masa depan. Namun kita tidak menyebut semuanya sebagai sains. Ini menunjukkan bahwa tujuan saja tidak cukup untuk mendefinisikan sains.
Apakah Metode Ilmiah Menjadi Pembeda?
Alternatif yang sering diajukan adalah metode. Sains dianggap khas karena menggunakan observasi, eksperimen, dan penyusunan teori. Okasha menilai pendekatan ini lebih menjanjikan, tetapi tetap bermasalah.
Tidak semua sains bersifat eksperimental. Astronomi dan sebagian ilmu sosial tidak dapat melakukan eksperimen terkontrol, namun tetap dianggap ilmiah. Yang lebih penting, sains tidak hanya mengumpulkan data, tetapi menyusun teori umum untuk menjelaskan data tersebut.
Teori inilah yang memungkinkan sains mencapai keberhasilan besar—sekaligus membuatnya selalu terbuka terhadap koreksi.
Sejarah Sains: Tidak Linear dan Tidak Final
Okasha menekankan bahwa pemahaman tentang sains tidak bisa dilepaskan dari sejarahnya. Pandangan Aristotelian yang mendominasi berabad-abad akhirnya runtuh oleh revolusi Copernicus, Galileo, dan Newton. Namun teori Newton yang sangat sukses pun kemudian dibatasi oleh relativitas dan mekanika kuantum.
Pelajaran pentingnya adalah:
👉 sains tidak bergerak menuju kebenaran final, melainkan menuju teori yang lebih baik dari sebelumnya.
Popper dan Masalah Demarkasi
Salah satu tokoh kunci yang dibahas Okasha adalah Karl Popper, dengan gagasan bahwa teori ilmiah harus falsifiable. Sekilas, kriteria ini tampak mampu membedakan sains dari pseudosains.
Namun Okasha menunjukkan bahwa praktik ilmiah nyata sering kali tidak sesederhana itu. Dalam sejarah sains, teori besar tidak selalu langsung ditinggalkan ketika bertentangan dengan data. Sebaliknya, ilmuwan sering mempertahankannya sambil mencari penjelasan tambahan—dan pendekatan ini justru sering menghasilkan kemajuan ilmiah.
Karena itu, upaya menarik garis tegas antara sains dan non-sains dengan satu kriteria tunggal terbukti tidak memuaskan.
Apakah Sains Memiliki Hakikat Tunggal?
Di bagian akhir, Okasha mengajukan kemungkinan yang sangat penting secara filosofis:
mungkin sains tidak memiliki esensi tetap.
Seperti konsep “permainan” menurut Wittgenstein, sains mungkin terdiri dari sekumpulan praktik yang saling beririsan, bukan satu aktivitas dengan ciri mutlak yang sama di semua konteks.
Jika demikian, maka pencarian definisi tunggal tentang sains bisa jadi memang keliru sejak awal.
Penutup: Membaca Sains dengan Kacamata Filsafat
Melalui pendekatan yang tenang dan analitis, Samir Okasha tidak sedang merendahkan sains. Ia justru membantu kita memahami sains secara lebih jujur—sebagai praktik rasional yang sangat berhasil, tetapi juga historis, kompleks, dan tidak kebal dari asumsi.
Memahami sains lewat filsafat sains bukan membuat kita anti-sains,
melainkan mencegah kita menyederhanakan sains menjadi dogma.
Dan mungkin, di situlah sikap ilmiah yang paling dewasa justru dimulai.
Leave a Reply